Minggu, 25 Desember 2011

Negara Paripurna


Judul Buku       : Negara Paripurna
Penulis              : Yudi Latif
Penerbit            : Gramedia Jakarta
Cetakan           : Mei 2010
Tebal                : xxvii + 667
Harga               : Rp.
Peresensi          : Ashabul Fadhli, S.H.I

Pembicaraan seputar Nasionalisme atau yang akhir-akhir ini sering kita dengar dengan istilah Pancasila, bukanlah suatu hal yang dianggap baru lagi. Wujud pancasila yang diasumsikan sebagai semangat gotong royong adalah bukti bahwa Pancasila bukan hanya rumusan yang sifatnya tersirat, namun tersurat. Begitu juga hal nya dengan isi Pancasila sebagai dasar negara. Nilai-nilai moralitas ketuhanan, kemanusiaan yang adil dan beradab, semangat persatuan, konsesus secara bijaksana, serta keadilan sosial, sekiranya telah tertanam dalam benak anak cucu bangsa.
Melalui tulisan dalam buku terbarunya yang berjudul “Negara Paripurna-Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila”, Yudi Latif memberikan gagasan cemerlang dengan ulasan panjang lebar yang tidak hanya membahas seputar Pancasila saja. Dalam tulisannya, Akademisi Paramadina ini menggali secara rinci mengenai historisitas, rasionalitas, dan aktualitas masing-masing Pancasila dengan menggunakan kacamata sejarah. Yudi Latif merasa dengan menggunakan kacamata sejarah, akan memungkinkan kita untuk melihat jauh ke belakang ke dalam sejarah Nusantara, melalui seluk-beluk perjuangan kemerdekaan sampai ke suasana debat ideologis yang berkembang saat ini.
Buku yang diterbitkan oleh Gramedia pada Mei 2011 ini, dimaksudkan sebagai sumber rujukan, dengan cara merekonstruksi alam pemikiran pancasila seperti yang diidealisasikan oleh pendiri bangsa ini. Ibarat tambang emas bagi semua yang mau mengerti bagaimana bangsa Indonesia dan negaranya sampai menjadi kenyataan yang tetap kokoh sampai saat ini. Sekaligus menyerukan bahwa Negara Indonesia terlahir bukan hanya sambung tangan dari administrasi bekas jajahan Belanda, tetapi lebih pada tekad perjuangan dan kenyataan sosial dari wujud persatuan suku, agama, ras, dan golongan di tanah air.
Membumikan Pancasila
Dalam buku setebal xxvii + 667 yang ditulis oleh penyandang gelar doktor sosiologi politik ini, banyak mengulas tentang sosok Pancasila yang menurutnya ideal dan sesuai untuk dilaksanankan dewasa ini. Yudi Latif menggambarkan Pancasila sebagai cerminan dari komitmen bangsa Indonesia untuk melaksanakan kehidupan publik-politik yang berlandaskan nilai moralitas dan budi pekerti yang luhur.
Buku yang banyak diapresiasi oleh para tokoh politik, akademisi, dan budayawan Indonesia seperti Taufik Kiemas, fasli Jalal, Kamaruddin Hidayat, Putu Wijaya, dan beberapa tokoh negara lainnya ini, memaparkan bahwa dalam mengamalkan komitmen Pancasila tersebut, Pancasila harus dijalankan secara proposional, bahwa Pancasila bukanlah agama yang berpretensi mengatur sistem keyakinan, sistem peribadatan, sistem norma, dan identitas keagamaan dalam ranah privat dan ranah komunitas agama masing-masing. Namun Pancasila merupakan usaha pencarian titik temu dalam semangat gotong-royong untuk menyediakan landasan moral yang kuat bagi kehidupan politik berdasarkan moralitas ketuhanan. Oleh karena itu dalam usaha membumikan Pancasila dari alam idealitas menuju alam realitas, perlu mengahayati fitrah (semangat asal) bernegara seperti yang dipesankan dan dicontohkan oleh para pendiri bangsa sendiri.
Berangkat dari uraian di atas, jelas terbukti bahwa semangat Pancasila tidak akan menemukan titik akhir  Tulisan dalam buku ini telah membuktikan hal itu, dan menjadikan buku karya Yudi Latif ini layak dan sangat menarik untuk di baca. Ketua DPD RI menyebutkan dalam apresiasinya, bahwa buku ini telah berhasil membedah Pancasila dengan ruang historis, rasionalitas, dan aktualitas dari butir-butir filosofis setiap sila Pancasila, sehingga sampai menjadi dasar konstitusi Negara Indonesia.
Berbeda dengan kebanyakan buku lainnya, ulasan dalam buku ini dikemas secara apik dan tidak hanya sekedar tambahan koleksi terhadap kajian sejarah saja. Akan tetapi, buku ini dapat dijadikan sebagai bahan-bahan diskusi, alat penafsiran untuk pemersatu agama dan budaya  serta informasi mengenai bagaimana Pancasila dan UUD 1945 mencapai kesepakatan dari berbagai pemikiran yang berbeda, sejak dari si “Ketuhana yang Maha Esa”, hinga sila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.
Buku yang diperkaya dengan suguhan sejarah ini, sudah seyogyanya menjadi pegangan wajib bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi mereka yang konsen atau sekedar menjadi pengamat dalam bidang politik dan sejarah Indonesia. Walaupun demikian, narasi dalam penulisan buku inipun sangat mudah untuk dipahami, yang tidak akan menyulitkan pembaca dalam memahami isi dan kandungan dari sisi pengetahuan, hakikat, dan kemanfaatannya.

Tidak ada komentar: