Selasa, 08 November 2011

Sex dan Gender

Fungsi reproduksi perempuan kerap membuahkan cara pandang bahwa ranah domestik adalah wilayah yang pas bagi perempuan. Ditambah lagi anggapan bahwa kekuatan fisik perempuan tidak sekuat laki-laki, sehingga perempuan adalah makhluk yang lemah. Anggapan ini mempunyai implementasi di dalam kehidupan sosial budaya yang telah melahirkan pembagian peran, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Pembedaan dalam pembagian tugas dan peran tersebut tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia bahkan masyarakat diberbagai belahan dunia. Masyarakat Amerika  misalnya, memandang bahwa laki-laki hanya pantas mengurus urusan publik semata, karena itu, laki-laki (suami) jarang sekali mengurus urusan domestik rumah tangganya termasuk mengurus anak. Sedangkan perempuan dianggap hanya mampu dan pantas mengusrus urusan rumah tangga, seperti mengurus anak, memasak dan membersihkan rumah.
Laki-laki juga dicerminkan sebagai makhluk yang super, kuat dan penuh semngat. Sementara perempuan diasumsikan sebagai makhluk yang lemah, emosional dan suka menangis ketika tidak bahagia, karena itu ia membutuhkan seorang laki-laki (suami) untuk mendampingi, melindungi dan memberi support.
Maka muncul pertanyaan, apakah pembedaan peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan serta pelebelan dan stereotype semacam ini dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin laki-laki yang kemudian disebut dengan seks ataukah hasil ciptaan manusia dan konstruksi sosial masyarakat yang kemudian disebut dengan gender?

Perbedaan seks dan gender

Jenis kelamin
Gender
Jenis kelamin bersifat alamiah
Gender bersifat sosial budaya dan merupakan buatan manusia
Jenis kelamin bersifat biologis. Ia merujuk pada perbedaaan yang nyata dari alat kelamin dan perbedaan terkait dalam fungsi kelahiran
Gender bersifat sosial budaya dan merujuk kepada tanggungjawab, peran, pola prilaku, kualitas-kualitas dan lain-lain yang bersifat maskulin dan feminin
Jenis kelamin bersifat tetap, ia akan sama dimana saja.
Gender bersifat tidak tetap, ia berubah dari waktu ke waktu, dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya, bahkan dari setu keluarga ke keluarga lainnya.
Jenis kelamin bersifat alamiah
Gender dapat dirubah

Identitas  dan peranan Gender
 Identitas gender merupakan situasi psikologis dalam melihat diri seseorang sebagai anak perempuan atau anak laki-laki dan kemudian menjadi seorang wanita atau laki-laki dewasa. Identitas gender seseorang anak dapat dikenali sejak lahir (jika anak itu mempunyai penis maka ia dikonsepsikan sebagai anak laki-laki, dan jika mempunyai vagina maka ia dikonsepsikan sebagai anak perempuan). Identas gender seseorang juga merupakan hasil refleksi dari konsep masyarakat tentang maskulinitas dan femininitas. Identitas gender seseorang biasanya dibentuk pada usia 3 tahunan.
Sementara itu,  peran gender merujuk pada karakteristik dan prilaku yang diterima secara sosial yang secara tipikal dihubungkan degan identitas gender seseorang. Misalanya perempuan dikonsepsikan sebagai manusia yang lebih emosional, memiliki ketergantungan, lebih memilih keluarga [family-oriented]. Sedangkan laki-laki dikonsepsikan sebagai manusia yang lebih tidak emosional, lebih mandiri, dan lebih memilih karir [carer-oriented], tetapi stereotype dan  fungsi gender semacam ini bisa mengalami perubahan.

Tidak ada komentar: